Saya dan blog ini

>> Sunday, April 17, 2011

Awal mula saya mempunyai blog ini adalah atas saran dari seorang teman yang saya kenal melalui ngerumpi(dot)com. Ngerumpi sendiri adalah sebuah web 2.0 dengan konsep yang berisi mengenai segala hal dan hubungannya dengan dunia perempuan, seperti misalnya : dunia kerja, lifestyle, kehidupan keluarga, relationship, dan segala sesuatu mengenai perempuan. Meskipun belakangan banyak banget artikel fiksi bertebaran di situs tersebut, dan saya adalah salah satu di antara sekian banyak warga yang sering menulis artikel fiksi (yang mana sering dibilang non fiksi alias curcol hihihihi :D).

Teman saya yang yang waktu itu menggunakan nama abe sebagai akun ngerumpinya pun menawarkan untuk membuatkan saya blog. Sebuah blog yang hanya memuat tulisan fiksi, seperti tulisan yang terlalu pendek untuk dibilang cerpen, puisi yang masih nanggung dari segi diksi, atau curcolan yang sengaja saya kasih tag fiksi, serta prosa-prosa yang masih jauh banget dari kata sempurna.

Saya sih seneng-seneng aja meski pun tulisan di blog ini semuanya adalah hasil copas dari ngerumpi juga, dan itu pun ga semua saya copas karena jujur saya lebih nyaman nulis di sana dengan komen-komen rusuh dan para warga nya yang selalu bikin kangen itu.

Setelah kemarin-kemarin sempet ga ada postingan baru di blog ini dikarenakan kebodohan saya yang dengan semena-mena melupakan username dan password-nya. Akhirnya dengan malu-malu saya curhat ke seorang teman yang juga merupakan warga rumpi dan alhamdulillah dia masih nyimpen username lengkap dengan password blog saya, dicatet pula (hihihihi jadi malu, saya aja yang punya ga pernah nyatet :))). Makasih Floo ^^

Saya sendiri sekarang sudah punya 3 blog. Dan dua blog lainnya adalah blog duet bersama teman. Ada sterenbee yang merupakan blog duet dengan Rinibee. Dan satu blog lagi yang errrr partner duet saya kayanya belon mau di publish deh takut ngetop kali ya :p). Malah rencananya saya mau membuat satu blog duet lagi bareng Queeny. Dan kesemuanya adalah tulisan-tulisan berbentuk prosa.

Dan yah, sekarang saya sedang bersemangat sekali menulis. Berbagi cerita dan menulis hal sekecil apa pun. Satu hal yang saya dapat di rumah rumpi adalah bahwa seperti apa pun tulisanmu, tulislah dengan hati. Tulislah hanya karena kamu ingin menulisnya, ingin membaginya.



Mari menari dalam kata lalu kita bersenang-senang....

Read more...

Aku mau

>> Friday, March 25, 2011

Sejak kapan? Tanyamu.


Ini bukan mengenai perasaan nyaman ketika aku bertukar banyak cerita denganmu. Bukan pula mengenai kamu dan apapun tentangmu. Ini mengenai sesuatu yang aku rasakan, lebih dari semua yang bisa aku urai lewat kata. Aku tak berani bilang ini cinta. Kamu tahu alasannya apa? Aku tak pernah seberani itu untuk jatuh cinta padamu. Tidak, tidak sampai sejauh itu. Tidak sampai menggantungkan angan setinggi langit. Hingga aku lupa menjejak bumi. Tempat di mana aku harusnya berpijak.


Aku ingin kamu, dalam batas-batas yang tak kumengerti
Merindukanmu dalam hasrat-hasrat yang tak kupahami



Masih percaya dengan yang dinamakan “kata hati”? Kapan terakhir kamu bicara dengannya? Berbicara selayaknya pemilik hati dan hati yang dimilikinya. Atau mungkin tanpa sadar, entah kapan, aku lalu berbicara dengan hatiku. Meminta ia menunjukkan, apa yang harus aku rasakan padamu. Ia bilang, biarkan rasa mengalir. Tanpa harus dibatasi. Kelak ia akan menemukan tujuannya, berhenti pada satu titik. Diantara sedih dan bahagia. Saat itulah aku harus memberanikan diri. Melangkah menuju salah satu darinya. Sedih atau bahagia?


Aku hanya diperintah oleh kata “harus” padamu
Harus. Tak kuasa menolak....
Dijalani, tanpa tanya, apalagi gugat
Entah berhenti dimana
Entah sampai dimana
Tapi aku harus menjalani
Karena ini bagian hidup yang kuingini



Lalu ada masa, dimana aku merasa rindu begitu di luar kendali. Aneh. Tidak masuk akal. Kehilangan logika untuk menjelaskan, ketika kamu bertanya, kenapa aku merindukanmu?


Kangeni aku, entah apa pun arti kangen itu bagimu
Cintai aku, dengan cinta yang seperti apapun
Ingini aku, dengan ikatan yang bagaimanapun
Aku mau...



Hey, sudahkah kubilang sebelumnya bahwa aku tak pernah seberani itu untuk jatuh cinta padamu?
Ah, sayangnya setelah mengatakan itu, aku baru sadar bahwa aku telah begitu terkuasai olehmu...
dan benar---aku jatuh cinta.

Read more...

Ketika rindu menari...

>> Monday, March 21, 2011

Rindu untuk priaku...


“Aku kangen kamu...”
Bisikmu lirih. Di antara bising deru kendaraan dan udara yang kian mendingin.



Langit yang baru menuntaskan hujan menjadi pembenaran saat tanganmu menggenggam tanganku. Membiarkan kita tanpa bicara. Tidak. Saat itu aku tak perlu kata. Aku hanya ingin berpegangan lebih lama. Lebih lama. Supaya rindu mampu mengalir. Kalau perlu sampai habis. Tak bersisa. Karena setelahnya, kutahu jarak akan memenggal kisah kita. Lalu aku akan mengumpulkan keping demi keping kenangan berserakan. Potongan rindu yang ternyata tak akan habis terurai. Ya, aku salah. Rindu ternyata begitu pandai membelah diri. Lalu dengan leluasa ia menempati setiap titik dalam hati, ingatan, bahkan keinginan.

Bola rindu menggantung di langit-langit kamar. Menciptakan nada yang melagukan irama Beethoven. Tapi selembut apa pun sebuah nada terlantun. Tentu kelak ia harus tetap berakhir. Seperti perjalanan rindu. Yang menyisakan episode lain di hadapannya. Aku bahkan melihat rindu-rindu berebutan memaksa masuk. Mereka menari riang. Melesat dalam bilik ingatan. Membuat sesak makin terasa. Hatiku penuh. Penuh akan rindu yang entah kapan bisa terbayar.

Garis jarak lalu menarikmu. Melepasmu sama saja menyuburkan rindu. Tapi aku tak punya pilihan. Selain mengucapkan selamat datang pada sesak yang kelak menguasai.



Ucapkan selamat datang pada sesak yang memenuhi hati tanpa peduli....




Rindu untuk wanitaku...


Dan udara pun terasa lindap saat langkahmu menjauh. Perlahan tajamnya rindu menoreh ciptakan luka abadi. Tak pernah ada mimpi untuk memilikimu. Bertolak dengan ingin agar sekilas pegangan jangan sampai terlepas.

Seharusnya satu pertemuan bisa memupuskan selapis rindu. Tapi sebaliknya, lapisan udara seakan menipis saat merelakan jarak menjadi juri penentu.

Mungkin saatnya mengiyakan pada lagu cinta yang tak pernah nyata. Yang selalu indah lirih terdengar merajam darimu.

Catatan singkat ini, biar sunset saja yang tahu, biar tenggelam jauh di ufuk.

Hey, kangen : Fuckyeah!!! Hanya ada saat dia tiada...


Dan mari bersama mengutuk jarak, menyerapahi waktu. Walau tak mengurangi senyum sinis angkuh dunia. Aku hanya ingin kau dekat saat ini. Tak lebih...

Dan kini, aku hanya bisa menghibur diri dengan membiarkan luka bercerita. Sesederhana ingin mengusap lembut keningmu dan membisikan cinta di sela halus rambutmu. Begitulah rindu mempermainkanku.


Ucapkan selamat datang pada sesak yang memenuhi hati tanpa peduli....

Read more...

Sampai gila...

Oh, secret admirer
When you’re around the autumn feels like summer
How come you’re always messing up the weather?
Just like you do to me...

Saya sedang suka lagu ini. Sebuah lagu manis berjudul secret admirer dari mocca. Jika ada yang bertanya, apakah ada alasan khusus untuk itu? Saya pasti akan menahan jawaban sambil tersenyum. Tersenyum seraya mengingat kamu. Seseorang yang kemudian membuat saya menggilai lagu ini.

Saya selalu percaya, tentu semua telah diatur sedemikian apiknya. Termasuk ketika siang itu tiba-tiba saya menemukanmu. Kenapa saya bilang tiba-tiba? Karena tanpa sadar tangan saya tergerak menuju padamu. Menuju takdir yang menuliskan nama kita di dalamnya. Kita kemudian terangkai dengan begitu banyak kebetulan. Kita ternyata mengenal banyak teman yang sama. Dihubungkan oleh berbagai kejadian yang lagi-lagi hanya sebuah kebetulan, katamu.

Dear handsome admirer
I always think that you’re a very nice fellow
But suddenly you make me feel so mellow
Every time you say hello

Itu adalah penggalan lirik yang paling saya suka. Manis ya? Sekali waktu, akan saya ceritakan betapa saya menyukai lagu ini. Pada sela-sela percakapan ringan kita. Di antara pembicaraan mengenai film yang sedang kamu suka atau tempat yang ingin kamu kunjungi. Tak lupa saya selipkan sedikit kisah. Kisah tentang saya yang menggilaimu. Menggilai hingga batas gila sebenar-benarnya. Menggilai hingga habis kesadaran saya. Menggilai hingga saya tidak sadar bahwa saya sedang tergila-gila. Menggilai hingga kamu tak punya pilihan lain kecuali menerima kegilaan saya. Kegilaan saya mencintai kamu. Kegilaan yang tenang saja, pasti akan terasa manis.

Tentu saya tidak pernah membayangkan bagaimana rasanya mencintai diam-diam. Seperti ingin berteriak di telingamu bahwa saya JATUH CINTA. Tapi kemudian saya menikmati semua ini. Menikmati saya yang diam-diam memperhatikanmu. Menikmati saya yang memutuskan tak menyapamu jika kita berpapasan. Menikmati saya yang tak pernah mengirimkan kata-kata indah untukmu. Menikmati saya yang lain. Saya yang hanya seperti ini ketika mencintaimu. Karena kamu berbeda. Karena saya ingin memperlakukanmu dengan cara yang berbeda.

Saya bercerita panjang lebar pada seorang teman. Bagaimana bisa, katanya. Seorang saya bisa diam menahan rasa. Padahal ia biasanya meledak-ledak minta dikeluarkan. Saya tersenyum tipis. Karena sekali lagi kamu berbeda. Ada kalanya di mana saya hanya bisa diam. Melihat icon messengermu menyala. Bahkan sebuah kata “hallo” pun tak pernah terbayang untuk memulai percakapan. Iya, hal itu sebegitu seringnya terjadi. Hingga lalu messengermu berubah warna. Dan saya harus menunggu keesokan hari untuk mengumpulkan keberanian itu lagi.

Tapi seperti yang saya bilang. Ketika telah sampai batas gila, maka dengan tenang saya akan menyapamu. Bertanya berbagai macam hal yang selalu kamu jawab dengan ramah. Mungkin akhirnya kamu akan sadar betapa saya menggilai kamu. Iya, itu ketika saya sudah tidak bisa berlama menahan rasa. Tapi tenang, kamu tidak perlu setakut itu. Saya tetap akan menggilaimu dengan manis. Saya janji.

Oh iya, saya pernah membuatkanmu beberapa cerita. Ada cerita mengenai kepingan senja, malam yang mengisahkan luka, dan tak lupa garis takdir yang perlahan bersinggungan. Bisa minta tolong ambil satu gambar pelangi? Biar saya bisa tulis kisah baru untukmu. Tentang langit yang berubah cantik. Selepas hujan dan matahari bertemu di satu titik.





Saya menggilaimu. Menggilai hingga batas gila sebenar-benarnya. Menggilai hingga habis kesadaran saya. Menggilai hingga saya tidak sadar bahwa saya sedang tergila-gila. Menggilai hingga kamu tak punya pilihan kecuali menerima kegilaan saya. Kegilaan saya mencintai kamu. Kegilaan yang tenang saja, pasti akan terasa manis.

Read more...

Cahaya Mentariku...

>> Sunday, September 5, 2010

CERITA BINTANG : Akulah Bintang yang begitu mencintai Mentari....



Pagi ini cerah sayang...seperti biasa selalu aku yang membukakan tirai jendela untukmu, agar bila kau membuka mata nanti, sinar mentari akan menyinari rambut indahmu. Rambut yang akan berwarna terang kecoklatan. Warna kesukaan kita.

Perlahan aku singkap tirainya....terasa hangatnya masuk kamar melalui jendela. Kau bahkan yang meminta agar kamar kita bisa mendapat sinar matahari yang cukup setiap paginya. Hangat, pemberi kehidupan...seperti dirimu. Seperti namamu. Mentari.

Ah matahari pagi ini masih enggan menampakan kekuasaannya. Mungkin itu yang membuatmu masih terlelap enggan membuka mata. Nyenyak sekali tidurmu akhir akhir ini sayang. Hal yang selalu aku sukai ketika kau sedang tidur adalah memandangi wajah lugumu. Wajah polos tanpa makeup yang selalu membuatku jatuh cinta berkali kali. Oleh karenanya aku selalu tidur setelah kau terlelap dan bangun sebelum pagi menyapamu. Untuk sejenak atau berlama lama mengagumi indah parasmu.

Pelan kucium keningmu. Berharap engkau membuka mata sambil mengerjap manja. Lalu berkata : "selamat pagi, sayang"

Tapi mata itu nampak terlalu lelah untuk menyambut hari panjang ini. Maka kubiarkan ia terlena dalam belaian mimpi. Aku pastikan salah satu dari mimpinya adalah tentangku. Mengenai pria yang selamanya akan terus mencintai dan memujamu. Seperti siang yang tak kan pernah bisa hidup tanpa kekuasaan sang mentari. Seperti itulah hidupku jika tanpamu.

Aku turun ke lantai bawah menuju dapur. Setiap pagi pun aku selalu membuatkan sarapan untukmu. Tidak...bukan hanya sarapan. Tapi makan siang, pun makan malammu. Aku bahkan menyuapimu. Menyendokan satu persatu suapan itu ke mulut manismu. Menyendokan nasi dengan lauk yang tak pernah boleh dicampur.

"Harus satu satu" Itu pesanmu. Dan setiap pesan darimu ibarat titah. Karena kaulah ratu di istanaku.

Ah, ketika aku buka pintu kamar kau masih saja terlelap. Cepatlah sayang. Sebentar lagi aku harus pergi ke kantor. Ada meeting penting hari ini. Atau mungkin kau hanya menggodaku saja dengan pura pura terus tertidur padahal daritadi kau pelan pelan memperhatikan semua yang kulakukan?

Lima menit. Duapuluh menit. Setengah jam. Kau begitu lelah hingga ingin waktu tidur lebih panjang, sayang? Baiklah. Akan kusimpan sarapanmu di samping tempat tidur. Jangan sampai kau tak memakannya seperti hari hari kemarin. Katamu kau ingin diet. Padahal dalam kondisi apapun aku bersumpah bahwa selalu kau yang tercantik.

Tak lupa aku siapkan air di kamar mandi. Pun handuk dan sikat gigi berpastamu. Lalu aku pilihkan pakaian terbaikmu untuk hari ini.

Aku berangkat sayang. Hati hati dirumah.



CERITA MENTARI : Akulah Mentari yang beruntung bisa dicintai Bintang



Namaku Mentari. Dan pria yang sedari tadi melayaniku bak seorang ratu bernama Bintang. Entah aku merasa ini bukan hanya sekedar cinta. Perlakuannya padaku lebih seperti kepada perlakuan hamba pada tuannya. Aku selalu dilayaninya hingga kadang aku kikuk. Tapi tak mampu menolak untuk alasan karena aku melihat binar mata itu begitu bahagia ketika melakukannya. Mata lugu itu. Mata yang mampu membiusku untuk jatuh dan jatuh cinta lagi....untuk kesekian kalinya.

Satu yang paling aku tahu tentang dirinya. Bahwa ia tak pernah ingin kehilanganku. Benarlah dia takan bisa melewatkan satu haripun tanpa membukakan tirai jendela untukku, membuatkan sarapan dan menyuapiku lalu menyiapkan peralatan mandi hingga pakaian yang harus aku kenakan. Semuanya ia lakukan dengan tulus. Untuk alasan apa aku tak bisa mencintai pria sebaik dia?

Jam menunjukan pukul 11 siang. Sebentar lagi telephone genggamku pasti berdering. Yah, Bintang selalu saja menghubungiku disela sela kesibukannya untuk memastikan keadaanku baik baik saja sepeninggal dirinya.

Benarlah telephone ku kemudian berdering. Hingga puluhan kali bahkan. Sudahlah Bintang, cukup! Sampai kapanpun aku tak kan bisa menjawab panggilanmu itu. Dan berhenti kau kirimkan sms yang menanyakan kenapa tak ku angkat panggilan darimu. Sudahlah Bintang, kau sudah tau alasannya apa.



Namaku Mentari. Entah berkah atau kutukan jika aku harus dicintai terlalu berlebihan oleh pria bernama Bintang. Hari ini. Seperti hari hari sebelumnya. Aku selalu berdiri di tempat yang sama. Menyaksikannya membuka tirai, menuruni tangga menuju dapur untuk membuatkan sarapan. Meletakan piring berisi sarapanku dan segelas orange juice di samping tempat tidurku. Menyiapkan air, handuk dan sikat gigi berpastaku. Lalu memilihkan pakaian untukku.

Sudah berminggu minggu aku memandang iba melihatnya melakukan hal itu.

Sudah berminggu minggu aku melihat jasad itu terbaring kaku diatas tempat tidur berseprai coklat.

Sudah berminggu minggu bahkan Bintang masih saja belum bisa menerima kepergianku.

Sudah berminggu minggu aku tak bisa tenang menghadapNya karena jasadku belum saja dikebumikan.







"Ah, sayang...lagi lagi tak sedikitpun kau sentuh sarapan yang sengaja aku persiapkan untukmu"





Bintang pun menutup tirai jendela. Menyambut malam bersama mentarinya. Mentari yang tak akan pernah dilepaskannya.

Read more...

  © Blogger templates Shiny by Ourblogtemplates.com 2008

Back to TOP